Berita Terkini
Trending Tags

Erlangga Pribadi: Marhaen Kini Bukan Lagi Petani, tetapi Pekerja Digital yang Tereksploitasi

  • account_circle kusnanto
  • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
  • visibility 195
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Erlangga Pribadi Kusman akademisi Universitas Airlangga (Unair)

Sinergia | Magetan – Konsep Marhaen yang diperkenalkan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dinilai tetap relevan di tengah perubahan zaman. Bedanya, jika pada masa kolonial Marhaen digambarkan sebagai petani kecil yang memiliki alat produksi tetapi tetap hidup dalam kemiskinan, kini sosok tersebut hadir dalam wajah baru: pekerja ekonomi digital yang tetap terjebak dalam ketidakpastian hidup.

Pandangan tersebut disampaikan akademisi Universitas Airlangga (Unair), Erlangga Pribadi Kusman, saat menjadi pembicara dalam Soekarno Talk In yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno.

Dalam forum yang juga menjadi ajang bedah buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z”, Erlangga menjelaskan bahwa pemikiran Bung Karno tidak boleh dipahami sebagai teori yang berhenti pada konteks sejarah kemerdekaan. Sebaliknya, Marhaenisme harus terus diperbarui agar mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.

Menurutnya, kekuatan utama Bung Karno terletak pada kemampuannya membaca realitas sosial secara langsung. Marhaenisme lahir bukan dari ruang akademik semata, melainkan dari pengamatan terhadap kehidupan masyarakat kecil yang mengalami penindasan.

“Bung Karno berpikir secara otentik. Gagasannya lahir dari persoalan konkret yang dialami rakyat Indonesia. Karena itu, Marhaenisme menjadi relevan sebagai metode perjuangan pada zamannya,” ujar Erlangga.

Erlangga menjelaskan bahwa sosok Marhaen pada era modern tidak lagi dapat dipahami secara harfiah sebagai petani kecil. Perubahan struktur ekonomi dan perkembangan teknologi telah melahirkan bentuk-bentuk eksploitasi baru yang dialami pekerja digital maupun pekerja sektor informal.

Ia mencontohkan pengemudi ojek daring, kurir, pekerja lepas (freelancer), hingga pekerja berbasis aplikasi yang menggantungkan penghasilan dari telepon genggam sebagai alat produksi. Menurutnya, mereka memang memiliki sarana kerja sendiri, seperti sepeda motor, telepon seluler, kuota internet, bahkan kendaraan pribadi. Namun kepemilikan alat produksi tersebut tidak otomatis membuat kehidupan mereka lebih sejahtera.

“Marhaen sekarang memiliki alat produksi berupa handphone, sepeda motor, atau akses internet. Tetapi mereka tetap bingung bagaimana memenuhi kebutuhan hidup besok,” katanya.

Bahkan, lanjut Erlangga, perangkat digital yang digunakan untuk mencari nafkah juga menjadi alat pengawasan terhadap pekerja. Melalui sistem aplikasi, algoritma, hingga penilaian pelanggan, aktivitas pekerja dipantau secara terus-menerus sehingga menciptakan bentuk eksploitasi baru yang berbeda dibanding era kolonial.

“Handphone bukan hanya membantu mereka bekerja, tetapi juga mengawasi setiap aktivitas kerjanya. Di situlah bentuk eksploitasi modern berlangsung,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Erlangga menilai tantangan yang dihadapi Generasi Z jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Jika dulu perjuangan rakyat Indonesia berpusat pada kemerdekaan politik dari penjajahan, kini generasi muda harus menghadapi persoalan yang bersifat multidimensi. Mulai dari mahalnya biaya pendidikan, sempitnya lapangan pekerjaan, ketidakpastian ekonomi, hingga krisis lingkungan hidup.

Menurut Erlangga, selama ini anak muda dijanjikan bahwa pendidikan tinggi akan menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Namun realitas yang terjadi justru menunjukkan banyak lulusan perguruan tinggi tetap kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak. Di sisi lain, biaya pendidikan terus meningkat sehingga tidak semua masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas.

“Kita dijanjikan bahwa kalau sekolah tinggi hidup akan lebih baik. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Pendidikan semakin mahal, sementara kesempatan kerja juga semakin kompetitif,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut Erlangga, memperlihatkan bahwa persoalan sosial tidak lagi hanya berkaitan dengan kemiskinan, tetapi juga menyangkut ketimpangan kesempatan.

Selain persoalan ekonomi, Erlangga juga menyoroti meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan yang kini menjadi tantangan global. Ia mengatakan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan telah memicu berbagai bencana ekologis di banyak wilayah Indonesia.

Menurutnya, hubungan manusia dengan tanah, hutan, dan lingkungan hidup semakin terancam akibat aktivitas ekonomi yang mengabaikan keberlanjutan. Karena itu, persoalan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam pembahasan buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z.

“Krisis iklim bukan hanya persoalan Indonesia. Ini adalah persoalan dunia yang juga harus dibaca melalui perspektif Marhaenisme,” ujarnya.

Ia menilai masyarakat kecil merupakan kelompok yang paling rentan menerima dampak kerusakan lingkungan, mulai dari gagal panen, banjir, kekeringan, hingga menurunnya kualitas hidup.

Melalui buku yang ditulis bersama Rocky Gerung, Erlangga berusaha menawarkan pendekatan baru dalam memahami Marhaenisme. Menurutnya, istilah “dalil baru” bukan berarti mengganti pemikiran Bung Karno, melainkan memperbarui cara menjelaskan persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Jika dahulu Bung Karno berbicara mengenai kolonialisme dan kapitalisme dalam bentuk penjajahan fisik, kini bentuk eksploitasi hadir melalui sistem ekonomi global, perkembangan teknologi, hingga ketimpangan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Karena itu, Marhaenisme harus mampu menghadirkan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan Generasi Z.

“Kita harus mencari narasi yang membuat anak muda langsung merasa terhubung ketika mendengar istilah Marhaen. Dari situlah lahir dalil-dalil baru yang kami tawarkan dalam buku ini,” katanya.

Ia berharap buku tersebut dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memahami pemikiran Bung Karno secara lebih kontekstual.

Erlangga menegaskan bahwa Marhaenisme tidak boleh dipahami sebagai doktrin politik yang kaku. Sebaliknya, gagasan tersebut merupakan metode berpikir yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Ia mengajak generasi muda untuk membaca realitas sosial secara kritis, kemudian merumuskan solusi berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, cara itulah yang dilakukan Bung Karno ketika menyusun Marhaenisme hampir seabad lalu.

“Yang diwariskan Bung Karno bukan sekadar kumpulan teori. Yang diwariskan adalah cara berpikir, cara membaca persoalan, lalu menghadirkan solusi yang berpihak kepada rakyat,” tegas Erlangga.

Ia berharap diskusi mengenai Marhaenisme tidak berhenti pada forum bedah buku, tetapi berkembang menjadi tradisi intelektual yang mampu melahirkan gagasan-gagasan baru bagi pembangunan Indonesia. Dengan demikian, Marhaenisme tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga tetap hidup sebagai kerangka berpikir dalam menghadapi berbagai tantangan abad ke-21. (kus).

Bagikan
  • Penulis: kusnanto
  • Editor: Krs/Byg

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab-DPRD Ponorogo Sepakati Ranwal RPJMD Ponorogo 2025–2029

    Pemkab-DPRD Ponorogo Sepakati Ranwal RPJMD Ponorogo 2025–2029

    • calendar_month Selasa, 22 Apr 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Ponorogo – Rancangan awal (ranwal) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Ponorogo tahun 2025–2029 akhirnya disepakati bersama antara DPRD dan Pemkab Ponorogo. Penandatanganan nota kesepakatan tersebut dilakukan dalam rapat paripurna di aula Bappeda Litbang Ponorogo, Senin (21/04/2025). Ketua DPRD Ponorogo, Dwi Agus Prayitno, menyampaikan bahwa pihak legislatif telah membentuk panitia khusus […]

    Bagikan
  • Moment Langka Warga Desa Sukolilo Madiun Guyub Rukun Swadaya Merehab Puskesmas

    Moment Langka Warga Desa Sukolilo Madiun Guyub Rukun Swadaya Merehab Puskesmas

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Sinergia Mediatama
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab Madiun : Fenomena langka ternyata masih terjadi di tengah hiruk pikuk serba modern. Warga Desa Sukolilo, Kec Jiwan, Kab Madiun, membuat gebrakan dan patut diapresiasi. Warga desa yang guyub rukun ini berhasil melakukan swadaya murni membangun Puskesmas Pembantu. Mereka bergotong royong merehab puskesmas agar bisa dimanfaatkan membuat nyaman warga sekitar serta sudah […]

    Bagikan
  • Lima Kandidat Lolos UKK Dirut Perumdam Kota Madiun, Siapa Paling Berpeluang Terpilih?

    Lima Kandidat Lolos UKK Dirut Perumdam Kota Madiun, Siapa Paling Berpeluang Terpilih?

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 256
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Proses seleksi calon Direktur Utama (Dirut) Perumdam Tirta Taman Sari Kota Madiun memasuki tahapan berikutnya. Dari sembilan pendaftar yang mengikuti seleksi administrasi, lima peserta dinyatakan lolos dan berhak mengikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK). Hasil tersebut tertuang dalam Berita Acara Nomor 05/PANSEL-PDAM.TIRTA.TAMANSARI/VI/2026 tentang hasil seleksi administrasi calon Direktur Utama Perumdam […]

    Bagikan
  • Kabupaten Madiun Terima Kuota Haji Sebanyak 382 Kursi, 3 Calon Ajukan Penundaan

    Kabupaten Madiun Terima Kuota Haji Sebanyak 382 Kursi, 3 Calon Ajukan Penundaan

    • calendar_month Selasa, 4 Feb 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 224
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun –  Kantor Kementerian Agama Kabupaten Madiun telah mengumumkan kuota jamaah calon haji Sebanyak 382 kursi Tahun 2025. Sebanyak tiga calon jamaah haji (CJH) di Kabupaten Madiun yang dipastikan berangkat tahun ini mengajukan penundaan.  Kepala Kementerian Agama Kabupaten Madiun, Irfan Al Khaidari menyatakan pengajuan penundaan berangkat haji tersebut dikarenakan alasan kesehatan yang […]

    Bagikan
  • DPRD Kota Madiun Sabet Penghargaan JDIH Award Jatim 2026, Ketua DPRD Armaya : Tahun Depan Target 3 Besar

    DPRD Kota Madiun Sabet Penghargaan JDIH Award Jatim 2026, Ketua DPRD Armaya : Tahun Depan Target 3 Besar

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 224
    • 0Komentar

    Sinergia | Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan apresiasi terhadap anggota Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH), bertepatan pada Hari Kebangktian Nasional (Harkitnas) Rabu (20/5/2026). Salah penerima penghargaan adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Madiun. Bertajuk JDIH Awards Jatim 2026, apresiasi ini wujud pelayanan informasi hukum secara lengkap, akurat, mudah dan cepat. Penghargaan […]

    Bagikan
  • Gebyar Pendidikan TK Kartika IV-17, Wujudkan Anak Pemberani dan Berprestasi

    Gebyar Pendidikan TK Kartika IV-17, Wujudkan Anak Pemberani dan Berprestasi

    • calendar_month Jumat, 16 Mei 2025
    • account_circle Sinergia Mediatama
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – Gebyar Pendidikan dalam rangka memperingati Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), dan HUT TK Kartika  IV-17 ke-65 digelar di TK Kartika  IV-17, Jl. Diponegoro 39 Kota Madiun, Jumat (16/05/2025). Ajang itu dilakukan dalam bentuk lomba fashion show baju adat dan lomba mewarnai. Wakil Ketua Yayasan Kartika Jaya Koordinator Rem 081 Cabang […]

    Bagikan
expand_less