Harga Telur Ayam di Madiun Anjlok, Peternak Mengaku Rugi dan Terancam Gulung Tikar
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 51
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Harga telur ayam ras di tingkat peternak di Kabupaten Madiun mengalami penurunan tajam dalam dua pekan terakhir. Saat ini, harga jual hanya berkisar Rp20.000 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi yang diperkirakan mencapai titik impas di kisaran Rp24.000 per kilogram.
Kondisi tersebut dikeluhkan para peternak karena dinilai semakin menekan usaha mereka. Bahkan, harga di tingkat pengepul disebut lebih rendah lagi, hanya sekitar Rp17.700 per kilogram, sehingga sebagian peternak memilih menahan stok telur di kandang atau menjual langsung ke toko kelontong agar memperoleh harga yang lebih baik.
Salah seorang peternak ayam petelur di Desa Candimulyo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Suciani, mengatakan harga Rp20.000 per kilogram sudah bertahan selama sekitar dua pekan. Menurutnya, dengan biaya pakan yang terus meningkat, harga tersebut membuat peternak merugi.
“Kemarin pihak pengepul sempat menawar Rp17.700 per kilo, tapi kami tolak dan memilih menahan stok di kandang dengan harapan beberapa hari ke depan harga membaik. Dengan harga sekarang kami sudah rugi karena biaya produksi lebih besar daripada hasil penjualan. Kalau terus begini, kami bisa gulung tikar,” ujarnya, Kamis (2/7/2026).
Suciani menilai anjloknya harga telur dipengaruhi oleh melemahnya permintaan pasar yang bertepatan dengan momentum bulan Muharram atau Suro. Di sisi lain, Harga Patokan Pembelian (HPP) telur sebesar Rp26.000 per kilogram yang telah ditetapkan pemerintah belum dirasakan manfaatnya oleh peternak di tingkat bawah.
Tak hanya harga jual yang turun, biaya produksi juga terus meningkat. Ia mengungkapkan harga konsentrat pakan ayam dalam dua bulan terakhir naik dari sekitar Rp390.000 menjadi Rp435.000 hingga Rp437.500 per sak.
“Selain harga telur turun, harga pakan justru naik. Ini yang membuat beban peternak semakin berat,” katanya.
Saat ini, Suciani memelihara sekitar 1.600 ekor ayam petelur dengan produksi telur mencapai 75 hingga 80 kilogram per hari. Namun, tingginya biaya operasional membuat keuntungan yang diperoleh tidak lagi mampu menutup pengeluaran.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, terutama dengan menekan harga pakan dan memastikan harga telur tetap stabil di tingkat peternak. Selama ini, kata dia, peternak mandiri belum pernah memperoleh bantuan pakan maupun jagung subsidi.
“Kami tidak bisa menaikkan harga telur sendiri karena mengikuti mekanisme pasar. Harapan kami pemerintah bisa membantu menurunkan harga pakan dan menjaga stabilitas harga telur agar peternak tidak terus merugi,” pungkasnya. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





