Jelang Tahun Ajaran Baru, Penjahit Seragam di Magetan Kebanjiran Pesanan hingga Stop Orderan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 55
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia| Magetan – Memasuki masa persiapan tahun ajaran baru 2026/2027, permintaan jasa jahit seragam sekolah di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengalami lonjakan signifikan. Tingginya pesanan membuat sejumlah penjahit kewalahan memenuhi permintaan pelanggan, bahkan sebagian memilih menghentikan sementara penerimaan order baru agar kualitas pekerjaan tetap terjaga.
Salah satu penjahit yang merasakan lonjakan tersebut adalah Edi Purwanto, pemilik usaha jahit di Jalan Kelud, Kelurahan Magetan. Ia mengatakan pesanan mulai berdatangan sejak sekitar dua bulan terakhir dan terus meningkat menjelang dimulainya kegiatan belajar mengajar.
Menurut Edi, tiga orang penjahit yang bekerja di tempat usahanya kini harus menyelesaikan pesanan seragam dari berbagai jenjang pendidikan, mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, baik negeri maupun swasta. Padatnya antrean membuat kapasitas produksi telah terisi penuh.
“Sudah sekitar seminggu ini saya tidak menerima pesanan lagi karena tenaga yang ada sudah penuh. Kalau dipaksakan, khawatir hasilnya tidak maksimal,” ujarnya.
Edi menuturkan, lonjakan permintaan menjelang tahun ajaran baru merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Namun, pada tahun ini pesanan datang lebih awal sehingga waktu produksi menjadi lebih padat dibanding biasanya.
Dalam sehari, setiap penjahit di tempat usahanya mampu menyelesaikan satu hingga dua pasang seragam sekolah. Untuk ongkos jahit, Edi mematok tarif berkisar Rp150.000 hingga Rp160.000 per pasang, bergantung pada model dan tingkat kesulitan pengerjaan.
Meski harga bahan penunjang seperti benang terus mengalami kenaikan, ia memilih mempertahankan tarif jasa jahit agar pelanggan tetap merasa terbantu dan tidak beralih ke tempat lain.
“Saya hanya menerima jasa jahit. Kalau sekalian menyediakan kain juga bisa, tetapi tentu ada biaya tambahan,” katanya.
Lonjakan pesanan juga dirasakan Sri Mulyani, penjahit yang telah menjalankan usaha bersama suaminya sejak dekade 1990-an. Menurutnya, permintaan seragam sekolah meningkat dibanding hari-hari biasa seiring dimulainya tahun ajaran baru.
Meski demikian, Sri menilai jumlah pesanan tahun ini belum seramai musim penerimaan peserta didik baru pada tahun sebelumnya. Saat ini, ia bersama suaminya mampu menyelesaikan sekitar satu stel seragam sekolah setiap hari.
“Alhamdulillah, pesanan memang naik karena anak-anak segera masuk sekolah, tetapi kalau dibandingkan tahun lalu masih sedikit lebih sepi. Sehari saya sama suami bisa nyelesaiin satu stel seragam sekolah,” ungkapnya.
Meningkatnya permintaan jasa jahit menjelang tahun ajaran baru menunjukkan masih tingginya minat masyarakat untuk membuat seragam secara khusus sesuai ukuran anak. Kondisi ini sekaligus menjadi berkah musiman bagi pelaku usaha jahit di Magetan yang setiap tahun memperoleh tambahan pendapatan dari momentum masuk sekolah. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





