Berita Terkini
Trending Tags

Kopi Warisan Kolonial Belanda dari Lereng Gunung Lawu Tetap Bertahan, Jadi Primadona Baru Magetan

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
  • visibility 147
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Kopi Excelsa dan Robusta tua jadi andalan Magetan. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Di tengah menjamurnya tren kopi lokal di Indonesia, lereng Gunung Lawu di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, masih menyimpan kekayaan yang tak banyak dimiliki daerah lain. Ratusan petani di kawasan ini tetap mempertahankan budidaya kopi dari bibit peninggalan era kolonial Belanda yang usianya telah melampaui satu abad.

Keaslian varietas serta cita rasa kopi yang diwariskan secara turun-temurun menjadi daya tarik tersendiri. Tiga jenis kopi, yakni Robusta, Arabika, dan Excelsa, masih tumbuh dan dibudidayakan tanpa mengalami persilangan, sehingga karakter rasa dan bentuk bijinya diyakini tetap sama seperti saat pertama kali ditanam lebih dari 100 tahun lalu.

Salah seorang petani kopi di kawasan Gunung Tambal, Desa Alastuwo, Santoso (57), mengatakan sebagian besar kebun kopinya berasal dari bibit yang diperbanyak dari satu pohon tua berusia lebih dari satu abad yang tumbuh di belakang rumahnya. Bibit tersebut dikembangkan secara vegetatif melalui stek batang hingga kini mencapai sekitar 3.000 pohon yang tersebar di tiga lokasi.

Menurut Santoso, pohon-pohon tersebut kini mampu menghasilkan sekitar satu ton kopi setiap musim panen.

“Punya saya kopinya jenis Robusta dan Excelsa. Bibitnya itu sudah ada sejak kakek saya masih hidup. Saya perbanyak terus sampai sekarang sudah ada 3.000 pohon di tiga titik,” ujar Santoso.

Ia menjelaskan kopi Robusta asal Poncol memiliki ukuran biji yang relatif lebih kecil dibandingkan kopi dari daerah lain. Kondisi tersebut justru menjadi ciri khas karena tanaman berasal dari varietas lama yang tidak mengalami persilangan. Sementara itu, kopi Excelsa, yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai kopi nangka, memiliki pohon lebih tinggi, daun lebih lebar, serta biji berukuran besar dan cenderung lonjong.

Image Not Found
Petani rawat kopi warisan Belanda di lereng Gunung Lawu. Foto : Kus-Sinergia

“Kalau Robusta bijinya memang lebih kecil dibanding daerah lain karena ini keturunan pohon lama. Sedangkan Excelsa pohonnya tinggi, daunnya lebar, dan bijinya lebih besar. Di sini orang menyebutnya kopi nangka karena aromanya khas seperti buah nangka,” jelasnya.

Meski populasi kopi Excelsa diperkirakan hanya sekitar dua persen dari total tanaman kopi di dunia, jenis ini memiliki pasar tersendiri. Namun, tidak banyak petani yang membudidayakannya karena proses panennya lebih sulit akibat tinggi pohon yang dapat mencapai belasan meter.

Untuk produk green bean, Santoso memasarkan kopi Robusta seharga Rp100.000 per kilogram, sedangkan kopi Excelsa dijual Rp110.000 per kilogram.

“Permintaan Excelsa ini mayoritas dari Solo dan Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Warga sini justru tidak banyak yang suka karena pohonnya tinggi dan metiknya lebih susah. Kalau Robusta, pembelinya banyak dari kafe-kafe di Magetan dan sekitarnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kementerian Pertanian Kecamatan Poncol, Sayogo Pamungkas, mengatakan kopi telah berkembang menjadi salah satu komoditas perkebunan unggulan di wilayah tersebut. Saat ini terdapat sekitar 720 petani kopi yang tersebar di delapan desa di Kecamatan Poncol.

Luas areal perkebunan kopi diperkirakan mencapai 25 hingga 30 hektare, dengan potensi pengembangan yang masih terbuka lebar. Kecamatan Poncol memiliki sekitar 2.200 hektare lahan kering yang dinilai sangat potensial untuk perluasan budidaya kopi.

Menurut Sayogo, pemerintah terus mendorong pengembangan sektor kopi melalui berbagai program pendampingan. Kelompok tani difasilitasi memperoleh bantuan bibit, pupuk, sarana produksi, hingga peralatan pengolahan kopi. Selain itu, pendampingan teknis juga dilakukan melalui kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

“Setiap tahun selalu ada pengembangan areal kopi. Kami memfasilitasi kelompok tani untuk memperoleh bantuan bibit, pupuk, obat-obatan hingga alat pengolahan kopi dari Dinas Pertanian. Kami juga menggandeng UNS dan UNESA untuk mendampingi petani agar kualitas kopi terus meningkat,” kata Sayogo.

Ia menambahkan, meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi lokal dengan cita rasa khas turut membuka peluang pasar yang lebih luas bagi kopi asal Poncol.

“Sekarang pemasaran kopi Poncol tidak hanya di Magetan. Produk petani sudah dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur bahkan hingga luar provinsi. Ini menunjukkan kopi dari lereng Gunung Lawu semakin dikenal dan memiliki prospek ekonomi yang sangat baik,” pungkasnya. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kejari Ponorogo Sita Lagi Rp1,049 Miliar, Total Uang Capai Rp3,037 Miliar

    Kejari Ponorogo Sita Lagi Rp1,049 Miliar, Total Uang Capai Rp3,037 Miliar

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Kejaksaan Negeri (Kejari) Ponorogo kembali menyita uang dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dana tunjangan perumahan pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Ponorogo tahun anggaran 2023–2026. Penyitaan pada Rabu (12/8/2026) menjadi penyitaan yang ketiga dalam perkara tersebut. Kali ini, uang yang diamankan mencapai Rp1,049 miliar. Dengan penyitaan tahap ketiga tersebut, total […]

    Bagikan
  • Jalan Tergerus Longsor, Warga Ponorogo Gendong Siswa Pulang Sekolah

    Jalan Tergerus Longsor, Warga Ponorogo Gendong Siswa Pulang Sekolah

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo — Video warga menggendong siswa sekolah karena jalan rusak di Ponorogo viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi di jalan penghubung Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, dengan Desa Wates, Kecamatan Jenangan, Selasa (13/1/2026). Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut kembali menggerus badan jalan hingga menyisakan lebar sekitar 20 sentimeter. Kondisi ini membuat […]

    Bagikan
  • Imigrasi Madiun Dukung Layanan Paspor Kolektif untuk 1.079 Pemohon se-Jatim

    Imigrasi Madiun Dukung Layanan Paspor Kolektif untuk 1.079 Pemohon se-Jatim

    • calendar_month Rabu, 18 Jun 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Madiun siap berkontribusi dalam layanan paspor kolektif yang digelar serentak oleh jajaran imigrasi se-Jawa Timur. Program ini merupakan hasil kerja sama antara Direktorat Jenderal Imigrasi dan Polda Jawa Timur dalam rangka peringatan Hari Bhayangkara ke-79, dengan total kuota 1.079 permohonan. Kegiatan akan berlangsung selama […]

    Bagikan
  • Pasar Murah di Selosari, Warga Antusias Dapatkan Sembako Harga Terjangkau

    Pasar Murah di Selosari, Warga Antusias Dapatkan Sembako Harga Terjangkau

    • calendar_month Minggu, 5 Okt 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Ratusan warga memadati Rumah Promosi Kelurahan Selosari, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Minggu (05/10/2025), untuk berbelanja kebutuhan pokok dalam pasar murah yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini sangat ditunggu masyarakat, terutama di tengah naiknya harga sejumlah bahan pangan di pasaran. Salah satu warga, Erna, mengaku senang bisa mendapatkan […]

    Bagikan
  • Dampak Efisiensi Anggaran, Wacana Pembangunan Caruban Sport Center Tertunda

    Dampak Efisiensi Anggaran, Wacana Pembangunan Caruban Sport Center Tertunda

    • calendar_month Selasa, 18 Feb 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Mega proyek Caruban Sport Center (CSC) yang rencananya tahapan pelaksanaan dilakukan pembangunannya tahun 2025 ini terancam batal. Ini menyusul adanya surat edaran terkait efisiensi anggaran berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) 1 tahun 2025. Akibatnya, progres pengadaan sport center yang rencananya menggunakan APBD 2025 terhambat tahun ini. Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan […]

    Bagikan
  • Polres Madiun Siagakan Ratusan Personel Hadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi

    Polres Madiun Siagakan Ratusan Personel Hadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi

    • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab.Madiun – Polres Madiun menyiagakan 400 personel gabungan untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Kabupaten Madiun. Langkah ini dilakukan seiring peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait peralihan musim yang rawan cuaca ekstrem. Apel kesiapsiagaan digelar di Lapangan Tri Brata Mapolres Madiun, Senin (3/11), dipimpin langsung Kapolres Madiun AKBP Kemas Indra […]

    Bagikan
expand_less