Curah Hujan Tinggi Pangkas Luas Tanam Tembakau di Magetan hingga Hampir Separuh, Dinas Genjot Pendampingan Petani
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 57
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Musim tanam tembakau 2026 di Kabupaten Magetan menghadapi tantangan berat. Curah hujan yang tinggi pada awal musim tanam menyebabkan banyak bibit gagal tumbuh sehingga petani harus melakukan penyulaman berulang kali. Kondisi tersebut mendorong sebagian petani beralih ke komoditas lain, mengakibatkan luas areal tanam tembakau turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
Sub Koordinator Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Magetan, Bambang Utomo, mengatakan tingginya intensitas hujan pada awal musim tanam menjadi faktor utama penurunan luas tanam tembakau tahun ini.
Menurut Bambang, tanaman tembakau tidak cocok dengan kondisi lahan yang memiliki kadar air berlebih. Akibatnya, banyak bibit mati sehingga petani harus melakukan penyulaman hingga tiga sampai empat kali, bahkan sebagian kehabisan bibit.
“Curah hujan pada awal musim tanam sangat tinggi dan hampir turun setiap hari. Kondisi ini membuat banyak bibit tembakau tidak tumbuh dengan baik. Akibatnya petani melakukan penyulaman berkali-kali, bahkan ada yang kehabisan bibit. Sebagian akhirnya memilih beralih menanam jagung maupun kentang, terutama di kawasan dataran tinggi,” ujarnya.
Peralihan komoditas tersebut berdampak pada penyusutan luas tanam tembakau di Magetan. Jika pada 2025 luas areal mencapai sekitar 500 hektare, tahun ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 250 hingga 300 hektare atau turun hampir 40–50 persen.
Meski demikian, Bambang menegaskan bahwa prospek ekonomi tembakau di Magetan masih tergolong menjanjikan. Selama ini, Magetan memiliki keunggulan waktu tanam yang lebih awal dibandingkan daerah penghasil tembakau lainnya sehingga hasil panen lebih dahulu masuk ke pasar.

“Biasanya pembeli atau pabrikan datang lebih dulu ke Magetan karena daerah lain belum panen. Ini menjadi keuntungan bagi petani. Untuk daun basah, harga sekitar Rp5.000 per kilogram saja sebenarnya sudah menguntungkan. Saat ini informasi yang kami terima bahkan sudah berada di atas Rp10.000 per kilogram,” jelasnya.
Ia menambahkan, khusus tembakau rajangan halus dari wilayah Kecamatan Parang, harga tembakau kering berkualitas baik dapat mencapai sekitar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bal, tergantung kualitas hasil panen.
Kabupaten Magetan sendiri memiliki sedikitnya tiga jenis tembakau unggulan yang berkembang di sejumlah wilayah. Di Kecamatan Parang dikenal tembakau Rejeb Parang yang memiliki karakter rajangan halus. Sementara di lereng Gunung Lawu, seperti Kecamatan Plaosan dan Kecamatan Sidorejo berkembang varietas Andong Kuning dan Andong Mliwis yang selama ini banyak dipasarkan ke Temanggung. Adapun wilayah Kecamatan Takeran mengembangkan tembakau jenis Virginia dan Burley, meski luas tanamnya masih di bawah 50 hektare.
Untuk membantu petani menghadapi tantangan budidaya, DTPHP Magetan terus melakukan pendampingan melalui perbaikan teknik budidaya, antara lain penggunaan bibit dalam tray semai serta pemanfaatan mulsa plastik guna meningkatkan keberhasilan tanam.
Namun demikian, Bambang mengakui harga mulsa plastik saat ini mengalami kenaikan sehingga menjadi kendala tersendiri bagi petani.
“Kami tetap berupaya memberikan dukungan kepada kelompok tani melalui bantuan teknis. Namun harga plastik mulsa saat ini ikut naik sehingga perlu penyesuaian dalam pelaksanaannya,” katanya.
Selain aspek budidaya, DTPHP juga berupaya memperkuat pemasaran hasil panen dengan mempertemukan petani dengan vendor maupun pembeli potensial. Langkah tersebut dilakukan agar petani memiliki lebih banyak pilihan pasar, meski pemerintah tidak dapat mengintervensi harga jual.
“Peran kami adalah memfasilitasi. Kami membuka jaringan pemasaran dan mempertemukan petani dengan vendor atau pembeli sehingga mereka memiliki peluang pasar yang lebih luas untuk menjual hasil tembakaunya,” pungkas Bambang. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez




