Gembrungan dan Ribuan Pisang Warnai Tradisi Maulid Nabi di Lereng Gunung Lawu Magetan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 55
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Menyambut bulan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, masyarakat muslim di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kembali mempertahankan tradisi gembrungan. Kesenian musik tradisional yang mulai jarang dimainkan itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus sarana melestarikan warisan budaya leluhur.
Tradisi tersebut masih dijalankan warga Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Magetan. Sejumlah warga, mayoritas orang tua dan lanjut usia, memainkan alat musik gembrungan yang terbuat dari kayu dan kulit. Perpaduan kendang serta alat musik terbang atau rebana berukuran besar dimainkan secara bersahutan, mengiringi lantunan sholawat dan pembacaan berjanjen.
Suasana sederhana namun penuh khidmat terlihat ketika para pemain berusaha menjaga keselarasan irama. Bagi masyarakat setempat, gembrungan bukan sekadar pertunjukan musik tradisional, tetapi juga bagian dari tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Perangkat Desa Durenan, Samuri, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menjaga tradisi gembrungan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Ini dalam rangka memperingati kelahiran Maulid Nabi Muhammad. Gembrungan ini merupakan tradisi kuno yang perlu dilestarikan,” ujar Samuri.
Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi media syiar agama. Lantunan sholawat dan pembacaan berjanjen menjadi bagian penting dalam pelaksanaan gembrungan yang digelar masyarakat setiap momentum Maulid Nabi.

“Yang dibaca seperti sholawatan, berjanjen. Tradisi ini sudah ada sejak dulu,” katanya.
Menariknya, peringatan Maulid Nabi di Desa Durenan tidak hanya diisi dengan gembrungan. Warga juga menggelar selamatan dengan menyediakan ribuan buah pisang dari berbagai jenis, makanan berbahan ketan, serta aneka hidangan lainnya.
Ribuan pisang tersebut kemudian dibagikan kepada warga setelah doa dan sholawat selesai dipanjatkan. Pembagian itu menjadi simbol kebersamaan, kasih sayang, serta semangat untuk saling mengayomi antarwarga.
Samuri menjelaskan, penggunaan pisang dalam tradisi tersebut memiliki filosofi yang diwariskan para leluhur. Dalam pemaknaan masyarakat setempat, kata “gedhang” atau pisang dikaitkan dengan ajaran kehidupan agar manusia senantiasa mengayomi dan menyayangi sesama.
Selain itu, terdapat filosofi “gumregut golek dalan padhang”, yang dimaknai sebagai ikhtiar manusia untuk mencari jalan terang dalam kehidupan serta memohon petunjuk kepada Allah SWT.
“Intinya kita sebagai manusia harus saling melindungi dan mengayomi. Kemudian gumregut golek dalan padhang, artinya kita hidup di dunia ini berharap diberi cahaya dan petunjuk oleh Allah SWT agar senantiasa berada di jalan-Nya,” jelas Samuri.
Bagi warga, selamatan dengan ribuan pisang juga menjadi bentuk rasa syukur atas berbagai karunia yang diterima masyarakat desa. Makanan yang telah didoakan kemudian dibagikan dan dinikmati bersama sebagai wujud kebersamaan.
“Pisang sudah dibagikan kepada warga sebagai simbol bahwa kita harus saling mengayomi dan mengasihi sesama,” imbuhnya.
Tradisi gembrungan kini menghadapi tantangan regenerasi. Sebagian besar pemainnya merupakan orang tua dan lansia, sementara generasi muda semakin jarang memainkan alat musik tradisional tersebut.
Kondisi itu membuat masyarakat Desa Durenan berupaya mempertahankan gembrungan melalui kegiatan-kegiatan tradisi keagamaan. Selain menjadi pengingat sejarah dan warisan budaya leluhur, gembrungan dinilai memiliki nilai sosial dan spiritual yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Di tengah arus modernisasi, pelestarian tradisi tersebut menjadi bentuk upaya warga lereng Gunung Lawu menjaga identitas budaya lokal. Maulid Nabi pun tidak hanya menjadi momentum memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk mempererat silaturahmi, berbagi, bersyukur, dan meneruskan warisan leluhur kepada generasi berikutnya. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez



