Pengrajin Batu Bata di Magetan Justru Ketiban Berkah di Musim Kemarau
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 37
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Musim kemarau panjang membawa dampak berbeda bagi warga Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Ketika sebagian sektor pertanian harus menghadapi keterbatasan air, para pengrajin batu bata di Desa Tulung, Kecamatan Kawedanan, justru menikmati berkah dari teriknya matahari.
Cuaca panas membuat proses pengeringan batu bata berlangsung lebih cepat. Di saat yang sama, aktivitas pembangunan rumah yang meningkat ikut mendongkrak permintaan terhadap material bangunan tersebut.
Sutrisno, salah seorang pengrajin batu bata di Desa Tulung, mengatakan permintaan produknya meningkat dibandingkan saat musim hujan. Kondisi cuaca yang panas membuat proses produksi lebih efisien karena batu bata lebih cepat kering sebelum masuk tahap pembakaran.
“Kalau musim kemarau pengeringannya lebih cepat. Sekitar dua hari sudah kering kalau cuacanya panas, sehingga produksi bisa lebih cepat dan pesanan bisa segera dipenuhi,” ujar Sutrisno.
Menurut Sutrisno, peningkatan permintaan juga tidak lepas dari bertambahnya aktivitas pembangunan rumah. Kondisi tersebut membuat produksi batu bata yang dihasilkan lebih mudah terserap pasar.
“Kalau dibandingkan musim hujan, sekarang permintaannya lebih banyak. Banyak yang membutuhkan untuk pembangunan rumah,” katanya.

Dalam sehari, Sutrisno mampu memproduksi sekitar 750 hingga 800 batu bata. Setelah jumlahnya terkumpul sekitar 8.500 biji, batu bata tersebut kemudian dibakar.
Ia menyebut cuaca panas menjadi keuntungan tersendiri bagi pengrajin karena dapat memangkas waktu pengeringan. Batu bata yang telah dicetak dapat lebih cepat siap untuk diproses ke tahap selanjutnya.
Keuntungan lain dirasakan dari sisi harga. Meski harga bahan baku mengalami kenaikan, peningkatan harga jual batu bata masih mampu mengimbangi kenaikan biaya produksi.
Harga bahan baku yang sebelumnya sekitar Rp300 ribu untuk satu truk dam kini naik menjadi sekitar Rp350 ribu. Sementara harga batu bata yang sebelumnya berada di kisaran Rp550 per biji meningkat menjadi sekitar Rp650 per biji.
Bahkan, harga dapat mencapai Rp800 hingga Rp900 per biji apabila dikirim ke lokasi yang lebih jauh. Besaran harga tersebut menyesuaikan dengan lokasi pengiriman dan biaya distribusi.
“Memang bahan bakunya naik, tetapi harga batu bata juga ikut naik. Jadi masih bisa menyesuaikan dengan biaya produksi,” kata Sutrisno.
Tak hanya mengandalkan pasar lokal, batu bata produksinya juga telah dikirim ke sejumlah daerah di luar Kabupaten Magetan. Pesanan datang dari wilayah Madiun hingga Ponorogo.
Jangkauan pasar tersebut membuat peningkatan permintaan selama musim kemarau menjadi peluang bagi pengrajin untuk menjaga bahkan meningkatkan kapasitas produksi.
Fenomena dampak kemarau tidak selalu menghadirkan persoalan bagi seluruh sektor ekonomi. Bagi petani yang bergantung pada ketersediaan air, kemarau dapat menjadi tantangan serius. Namun bagi usaha yang membutuhkan panas matahari dalam proses produksinya, kondisi tersebut justru menjadi keuntungan.
Para pengrajin batu bata pun memanfaatkan momentum ini untuk mengejar produksi dan memenuhi permintaan pasar. Terik matahari yang menyengat bukan lagi sekadar tanda musim kering, tetapi berubah menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi mereka. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





